oleh : H. Syamsul Bahri, S.Kom, MM
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah.” (QS : 33 : 21).
Ulama besar dari negeri Basrah Syeik Ibrahim bin Adham pernah menyampaikan nasehat kepada orang banyak bahwa salah satu penyakit Qolbu adalah orang yang mengatakan : “Saya cinta kepada Rosulullah”, namun meninggalkan tuntunannya.
Bukti kecintaan umat kepada utusan Allah SWT yaitu Nabi Muhammad saw tidak diukur dari besar kecilnya kita mengingat hari kelahirannya dengan merayakan dan menggelar berbagai macam acara atau kegiatan, namun dilihat sejauh mana kita mampu mengartikulasikan apa yang ditinggalkannya dengan menjadi penganut, pengamal, penerus dan penegak Risalah yang dibawanya.
Sebagai pengikut setia Rosulullah saw seyogyanya kita menjadikan Rosul sebagai figure central yang menjadi suri tauladan hidup kita, sebagai uswah atau panutan yang ketinggian akhlaqnya tidak dapat ditandingi oleh manusia manapun dimuka Bumi ini. Banyak diantara umat muslim yang tidak memahami manifestasi cinta Rosullullah saw, terbukti dengan betapa banyak di antara kita yang tidak menjadikan Rosulullah saw sebagai manusia yang di-idolakannya sehingga dengan suka cita dan bangga kita mau meniru kepribadian dan tingkah laku orang-orang yang jauh dari potret kehidupan Rosulullah.
Konsekwensi cinta kepada Rosul adalah kita berkemauan besar untuk meniru ucapan, gerak gerik dan prilaku Nabi Muhammad saw dalam kesehariaanya yang tidak terlepas dari misi suci penegakan konsep langit yang diemban di pundaknya untuk di zhohirkan (dimenangkan) di muka Bumi ini.
“Dialah yang telah mengutus RasulNya (dengan membawa) petunjuk (Al-Quran) dan agama yang benar untuk dimenangkanNya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrikin tidak menyukai.” (QS : 9 : 33)
Memang tidak mudah untuk mengaplikasikan kecintaan kepada Rosulullah Muhammad dalam kehidupan kita sehari-hari, penuh motivasi yang kuat, perjuangan dan kesabaran dalam menjalankannya. Kita harus mengawalinya dengan mengenal lebih dahulu perjalanan hidup beliau yang dikenal dengan istilah “Siroh Nabawiyah”.
Dengan memahami “Siroh Nabawiyah” kita akan mengetahui apa fungsi dan tugas Rosul sesungguhnya di planet Bumi ini, yang kemudian kita sebagai pewarisnya melanjutkan estafeta perjuangan dalam menegakkan kalimat Ilahi. Mengapa kita umatnya yang harus melanjutkan ?, karena Allah SWT telah menetapkan bahwa Nabi Muhammad saw adalah Nabi penutup/terakhir yang dalam tugas sucinya harus dilanjutkan oleh orang yang mengimaninya.
“Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu., tetapi Dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. dan adalah Allah Maha mengetahui segala sesuatu”. (QS : 33 : 40)
Tugas yang diemban oleh Rosul saw, juga harus menjadi tugas kita dalam hidup ini. Oleh karenanya setiap kita harus tahu tugas apa saja yang diamanahkan Allah SWT kepada utusanNya itu. Adapun diantara tugas Rosul saw yang disebutkan dalam Al-Qur’an adalah :
“Hai Nabi, Sesungguhnya Kami mengutusmu untuk Jadi saksi, dan pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan. Dan untuk Jadi penyeru kepada agama Allah dengan izin-Nya dan untuk Jadi cahaya yang menerangi”. (QS : 33 : 45-46)
Dari ayat di atas, ada beberapa tugas Rosul saw yang harus dipahami dengan baik, yaitu :
Pertama, Syaahidan yang artinya saksi bagi manusia baik di dunia maupun di akhirat. Di dunia, dengan ajaran yang dibawanya beliau membimbing umat manusia agar mereka bersikap dan berprilaku secara Islami sehingga kebahagian dunia dan akhirat akan dicapai oleh manusia itu sendiri. Rosulullah saw sangat menumbuhkan sikap optimis dalam mencapai sesuatu dan meransang orang untuk berpikir tentang berbagai persoalan di dunia ini. Begitulah Nabi saw memfungsikan dirinya sebagai Syaahidan (saksi) di dunia ini.
Sedangkan di akhirat, beliau tidak menghendaki umatnya menderita, tapi beliau menjadi saksi atas pengadilan umatnya di dunia dan kepada umatnya yang memang cinta kepadanya, Rosulullah memberikan syafaat (pertolongan) kepada mereka. Allah berfirman :
“……. dan Rasul (kelak) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu…...” (QS : 2 : 143)
Tugas kedua yang diemban oleh Rosul saw adalah Mubasysyirin yaitu pemberi kabar gembira kepada manusia dengan menyampaikan janji Allah yang akan memberikan pahala dan kenikmatan syurga kepada manusia yang beriman dan beramal sholeh, sementara bagi manusia yang telah berdosa dan berbuat maksiat juga mendapat kabar gembira berupa ampunan dari Allah bila mereka mau bertaubat dengan sebenar-benarnya. Sedangkan bagi manusia yang mendapat cobaan atau ujian juga mendapat kabar gembira apabila mereka sabar dan istiqomah, maka Allah akan mengangkat derajat mereka.
Ketiga, tugas yang diemban oleh Rosul saw adalah Nadziran yang artinya pemberi peringatan yaitu dengan menunjukkan adanya dua jalan yang dapat dipilih oleh manusia selama hidup di dunia berupa jalan kebaikan yang berujung pada kebahagian yang hakiki di syurga, serta jalan keburukan yang berujung pada kesengsaraan berkepanjangan yang tak berkesudahan di akhirat kelak.
Tugas keempat yang diamanahkan kepada Rosul saw adalah menyeru ke jalan Allah sehingga beliau disebut sebagai Ad Da’i Ilallah (penyeru kepada agama Allah), beliau melaksanakan tugas dakwah dengan penuh kesabaran, keberanian, lemah lembut dan kasih sayang.
Tugas kelima yang dipikul oleh Rosul saw adalah menjadi Sirajan Muniira yang artinya : “cahaya yang menjadi penerang“. Tugas ini menjadi sangat penting dilaksanakan oleh Rosul saw mengingat masyarakat pada waktu itu memang berada pada kondisi kegelapan jahiliah sehingga kehidupan manusia pada waktu itu tidak sesuai dengan nilai-nilai yang seharusnya dipegang oleh manusia, maka kedatangan Rosul untuk menerangi kehidupan manusia sehingga manusia menjadi tahu kemana arah hidup yang harus ditempuh.
Dalam kondisi dunia seperti sekarang yang sedang kacau, umat manusia sadar atau tidak sebenarnya amat memerlukan syariat Islam. Dunia menanti lahirnya masyarakat yang Islami. Karenanya bagi kita yang menjadi umat muslim dan sekaligus pengikut setia Rosul saw untuk membuktikan kecintaan kita kepadanya harus terpanggil untuk melanjutkan tugas-tugas dakwah Rosul saw agar kita semua kelak mendapat syafaat darinya. Amin ya Robbal ‘alamin.
Label: Mimbar Jumat